Cerita Sex My Boss!!! – Part 16

Cerita Sex My Boss!!! – Part 16by adminon.Cerita Sex My Boss!!! – Part 16My Boss!!! – Part 16 MY BOSS PART 3 POV Orang Ke-3 Gedung-gedung pencakar langit tampak kehilangan keangkuhannya sepeninggal matahari. Bintang-bintang tampak enggan muncul di kegelapan itu, mereka memilih bersembunyi di balik awan hitam hasil polusi, digantikan pesona lampu malam yang merebak di sepanjang bangunan yang berderet menyisir jalan. Penduduk bumi seolah tak lelah merenovasi […]

tumblr_nkqtdmg6aA1up9txto1_1280 tumblr_nkr7tswzau1up9txto1_540 tumblr_nkr7u5Vn481up9txto1_500My Boss!!! – Part 16

MY BOSS PART 3

POV Orang Ke-3

Gedung-gedung pencakar langit tampak kehilangan keangkuhannya sepeninggal matahari. Bintang-bintang tampak enggan muncul di kegelapan itu, mereka memilih bersembunyi di balik awan hitam hasil polusi, digantikan pesona lampu malam yang merebak di sepanjang bangunan yang berderet menyisir jalan. Penduduk bumi seolah tak lelah merenovasi alam. Merusaknya, kemudian menciptakan keindahan imitasi saat mereka berpikir bahwa yang alami ternyata lebih bagus bila tetap berada pada tempatnya.

Kendaraan tampak lengang malam itu, menghadirkan kelegaan di kursi para pemiliknya. Bersyukur atas lolosnya mereka dari himpitan kemacetan yang menjenuhkan. Begitupun dengan Rendra, dia tampak santai mengemudikan BMW-nya, menuju apartement yang sejak tiga tahun yang lalu dia tinggali. Dia memutuskan untuk tinggal di tempatnya sendiri sejak ibunya mulai merecokinya tentang pernikahan. Di usianya yang ke-34 tahun, ibunya sudah mulai resah dengan masa lajang yang sepertinya dinikmati Rendra. Namun dia tak pernah menghiraukan itu. Dia tampan, sukses, dan tidak pernah kekurangan wanita. Baginya sudah cukup untuk hidup melajang. Walaupun suatu saat dia tidak memungkiri akan menghadirkan seorang wanita untuk mendampingi hidupnya. Mungkin saat dia berumur 45 tahun, dia akan menikah dengan gadis berumur 20 tahun, itu hal yang keren bukan? Bahkan saat ini umurnya masih 34, masih jauh untuk memiliki seorang istri.

Hm, tapi akhir-akhir ini dia mulai memikirkan kembali perkataan ibunya. Yah. Sejak Rendra bertemu dengannya, wanita yang pernah mengacaukan hidupnya saat dia muda dulu. Dia tersenyum, mengingat awal pertemuannya dengan Sekretarisnya itu. Tak menyangka bahwa takdir akan mempertemukan kembali mereka.

Dulu Rendra mati-matian mencari wanita itu, merindukannya, sampai-sampai wanita-wanita di sekelilingnya terlihat tak menarik lagi. Tapi usahanya tak pernah berhasil. Wanita itu seolah menghilang di telan bumi, hingga seminggu yang lalu wanita itu kembali hadir. Muncul di hadapannya kembali. Membuat dia kembali berharap, kembali menginginkannya, dan kali ini, tak akan dia lepas.Walaupun sepertinya Sheila tak ingat akan dirinya. Rendra tak peduli semua itu. Dia bertekad akan mendapatkan wanita itu. Bagaimanapun caranya.

Ingatannya kembali melayang pada peristiwa tadi sore, Rendra bergumam tak jelas merutuki kenakalan saudaranya yang tak pernah berubah dari dulu. Sudah setahun dia tak bertemu dengan Endo, sepupunya yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di London. Dan saat ini dikira sedang menjalin asmara oleh Sheila. Dengan sangat tidak sopan Endo menerobos ruang kerjanya dan melakukan kebiasaan lamanya. Memeluk Rendra tanpa aba-aba. Hingga Rendra yang baru saja menyelesaikan makan siangnya, dan bermaksud melanjutkan pekerjaanya yang menumpuk di meja kerjanya kaget dengan suara pintu yang terbuka dan bedebam keras pintu yang kembali tertutup. Dan sebelum Rendra menyadari apa yang terjadi, kakinya harus rela terantuk meja dan tubuhnya terjengkang di depan sofa yang tadi didudukinya. Bersama tubuh Endo di atasnya.

Rendra kesal setengah mati dengan tuduhan Sheila, namun harus kembali berhadapan dengan Endo yang malah terbahak dan menertawakan peristiwa yang diakibatkan olehnya sendiri. Sedetik kemudian sesuatu di dalam celananya sedikit berdenyut. Mengingat cumbuan yang dilakukanya dengan Sheila sore tadi. Andai saja Sheila tak merusak suasana dengan mengatakan kalimat bodoh itu. Pasti Rendra sudah memanjakan kejantanannya. Memasukannya ke dalam milik Sheila, dan.. Shit pikirannya kacau. Ini di jalan man. Rendra berusaha mengusir pikiran kotor itu jauh-jauh. Mengingat posisinya sedang mengemudi.

Namun tak lama kemudian, sebuah senyum tersungging di bibirnya, saat melihat wanita yang dilamunkannya sedang berdiri di pinggir jalan, memakai skinny jeans dan tanktop hitam dilapisi cardigan putih dengan tas selendang berwarna cokelat. Rambutnya diikat ekor kuda dengan sedikit asal, helaian rambutnya sedikit terlepas dari ikatan, membentuk salur-salur rambut yang tampak memunculkan kecantikan naturalnya.
Sheila menenteng koper besar berwarna merah. Menunggu taksi yang tak kunjung datang. Melihat suasana itu Rendra menepikan mobilnya tepat di pinggir Sheila, kemudian membunyikan klakson dan membuka kaca jendela mobilnya.

Butuh tumpangan Nona? Ucapnya sedikit kencang, takut tersaingi oleh suara bising kendaraan yang lalu lalang.

Pak Rendra?? teriak Sheila, setengah tak percaya. Bagaimana mungkin dia bertemu dengan Rendra di saat dia menghadapi kesialannya saat ini.

Sudahlah, ayo masuk. Sebelum aku ditilang polisi! Perintah Rendra arogan. Tak berbeda nadanya dengan saat dia di kantor. Sheila yang sadar akan hal itu menurut. Terhipnotis ucapan bos yang biasa diturutinya selama semingu ini.

Kemana tujuanmu? tanya Rendra tanpa basa-basi.

Sheila merengut, menggigit bibirnya dengan raut wajah bingung. Apakah dia harus jujur bahwa dia baru saja diusir ibu kontrakannya dua jam lalu? Atau dia harus jujur tentang dirinya yang kini tak punya tempat tujuan dan baru saja berniat menuju hotel dengan isi dompetnya yang pas-pasan, bahkan akan membuatnya tak makan seminggu bila dia memaksakan dirinya menginap di sana?

Kau tak mau mengatakannya? Rendra kembali mengajaknya bicara.

Um.. sebenarnya, saya tadi bermaksud menginap di tempat Ami, tapi..dia sedang sibuk dengan pacarnya. Hehe Sheila berusaha menyembunyikan kegugupannya. Berhadapan dengan bosnya yang tampan selalu membuat jantungnya berolahraga dengan keras.

Kau tak punya tempat tinggal? Tebak Rendra. Tepat sasaran.

Ah, itu, saya ingin mencari tempat tinggal baru, sewa kontrakkan saya habis jadi.. Sheila kembali terdiam, bingung harus berkata apa.

Jadi untuk sementara kau menginap di tempat Ami? Bagaimana dengan teman-temanmu yang lain? Rendra melanjutkan. Sekali lagi tepat sasaran.

Saya belum begitu akrab dengan teman kantor yang lain Pak. Dan teman-teman saya yang lainnya tinggal di tempat yang cukup jauh dari kantor. Apalagi sekarang sudah jam 9 malam. Saya aku terdiam kembali sambil melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 9 lewat 20 menit.

Baiklah. Kita ke apartementku.

Apaa???

Kau tak punya tempat tinggal. Tak punya tempat tujuan. Untuk malam ini menginaplah di tempatku. Sahutnya datar tanpa mengalihkan pandangannya, fokus mengemudi.

Tapi Pak. Maaf saya tidak bisa. Sebaiknya saya turun di sini. Sheila benar-benar butuh tempat tinggal. Tapi tidak dengan bosnya. Ini benar-benar di luar rencananya. Mengingat hal yang tadi mereka lakukan di kantor, membuat Sheila bergidik. Dia tak mau lepas kendali seperti tadi. Dia benar-benar harus menghindari situasi ini. Bosnya benar-benar membuat Sheila menghancurkan segala idealisme dan rangkaian hidup yang selama ini dia rencanakan. Sejak bertemu Rendra, dia sudah beberapa kali melanggar prinsipnya dan membuat jalan lurusnya sedikit berkelok dari arah yang ditentukan. Dan itu sudah cukup.

Hanya semalam. Anggaplah ini kebaikan seorang bos terhadap sekretarisnya. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau inginkan. Hanya ingin membantu. Sheila terdiam. Mulai goyah dengan kata-kata Rendra yang sepertinya sungguh-sungguh. Namun sebelum dia berpikir lebih jauh. Rendra sudah mulai menepikan mobilnya, mereka sudah sampai di tempat tujuan tanpa Sheila sadari.

Sampai. Sahut Rendra, kemudian turun dan membukakan pintu untuk Sheila kemudian membawakan koper yang di simpan di kursi belakang mobil. Sheila menurut. Mengikuti Rendra menuju apartementnya yang terletak di lantai tiga. Masuk! Ucap Rendra, setelah sampai di depan pintu apartementnya. Kemudian membukanya.

Sheila melangkahkan kakinya menuju ruangan yang merupakan apartement bosnya. Tempat itu didominasi warna cokelat dan putih. Dindingnya putih, perabotan besar seperti rak, sofa dan bagian dapurnya sebagian besar berwarna cokelat. Dan tirainya putih. Selain lukisan dinding, interior di apartementnya tak begitu berwarna. Simple. Pikir Sheila.

Aku mandi dulu. Bila ingin minum ambil saja. Dan apakah kau sudah makan? dengan enggan Sheila mengangguk. Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu, aku akan mandi di sana. Kata Rendra sambil menunjuk ruangan yang dekat dengan dapurnya. Kau bila ingin mandi dan berganti pakaian pakai kamarku di sana. Lanjut Rendra menunjuk pintu yang di sebelah kanan Sheila. Sekali lagi Sheila mengangguk dan menurut.
***

Sheila POV

Aku menyegarkan badanku dengan mandi dan keluar dengan selapis handuk yang membalut tubuhku. Mengacak-acak koper dan menyadari kalau ternyata aku tak membawa baju tidur yang cukup pantas untuk kupakai di hadapan bos ku. Tapi aku tak mungkin memakai pakaian tidurku yang biasa kukenakan dan bisa dibilang cukup seksi dalam keadaan seperti ini. Akhirnya pilihanku jatuh pada baju yang sehari-hari kupakai, kaos putih bergambar tweety di bagian depannya dan hot pants di atas lutut, menampakan sedikit pahaku. Sepertinya pakaian ini cukup nyaman. Aku keluar dari kamar setelah memakai pakaianku lalu mendapati bosku yang sedang duduk di sofa panjang sambil menopang kepalanya dengan tangan kirinya, tangan kanannya memegang remot televise dan memencet-mencetnya, memindahkan channel tv yang dia tonton. Dia menekuk lutut sebelah kanannya. Kaki kirinya dibiarkan menapak lantai. Dia hanya memakai celana boxer.

Aku cukup terkejut melihat dia dalam posisi seperti itu, dada yang tadi sempat ku raba kini terpampang jelas di hadapanku, seperti yang kuduga, otot-ototnya tercetak sempurna, membuatku ingin menyentuh liatnya tubuh itu. Tanpa sadar mulutku terbuka. Dia melihatku dan menyeringai.

Kau mau? godanya. Sialan. Dia tahu apa yang kupikirkan. Aku segera menormalkan ekspresiku dan duduk di sebelahnya. Sedikit tergoda untuk melihatnya lebih dekat.

Ma.. maksud anda apa? aku pura-pura tak tertarik dan mengalihkan pandanganku pada televisi yang memutar film kucing dan tikus yang sedang berkejar-kejaran.

Maksudku kopi. Dia meraih kopi dan mengucapkan kalimat itu seolah tanpa beban. Kemudian mengedipkan mata padaku. Kembali menggodaku.

Pak! Saya tahu maksud anda. Tapi bisakah anda berpakaian seperti biasanya? sindirku sambil tetap memelototi layar tv yang sedang menayangkan adegan kucing yang jatuh dari gedung tinggi.

Maksudmu? Kalau di rumah aku memang seperti ini. Lebih nyaman. Bahkan biasanya tanpa pakaian. Yah kau tahu, kalau sedang bersama wanita.. hmm di tempat tidur. Oh ya, panggil aku Rendra, di sini bukan kantor. Paparnya. Sialan. Jadi maksudnya dia tiap hari melakukan sex dengan wanitanya? Memang apa peduliku? Aku juga tak akan membiarkan dia melakukan itu denganku. lihat saja. Dan apa yang terjadi dengan kucing itu? kenapa dia tidak mati? Bukankah tadi dia jatuh di atas gedung? Film tak masuk akal.

Dengar Pak. Maksud saya Rendra. Saya tak peduli. Tapi di hadapan seorang wanita yang bahkan baru anda temui satu minggu yang lalu. Seharusnya anda tahu cara berpakaian yang baik. Saya yakin seorang CEO seperti anda adalah orang yang tahu tatkrama dan kesopanan. Cibirku.

Haha. Kau tahu? Biasanya aku hanya bertemu sekali dengan wanita dan mereka langsung melihatku. telanjang. Dia menekan kata telanjang kemudian terkekeh. Brengsek. Playboy mesum tak tahu diri.

Aku menghela nafas. Tak mau membahas lebih lanjut pengalaman bosku dan selirnya. Kami terdiam, cukup lama sambil menonton film kucing dan tikus yang kini sedang bekerja sama mengerjai anjing besar. Bagus mereka sudah rukun sepertinya. Tak bertengkar lagi.

Kau tidak ngantuk? tanya Rendra. Berusaha memecah kebisuan kami yang beberapa menit lalu terlalui. Aku melirik jam yang ada di salah satu dinding apartementnya, jam sudah menunjukan pukul 11 malam.

Ah. Iya, besok saya harus bekerja. Ujarku beranjak. Namun kemudian terpaku.

Pak.. saya tidur dimana? tanyaku yang menyadari ketidaktahuanku tentang ruangan di apartement ini. Sepertinya ada satu kamar lagi di sini. Mungkin aku akan tidur di sana.

Sudah kubilang, pangil aku Rendra, Kau tidur di kamarku.

Apa??? La.. lalu bapak ah maksudku kau tidur dimana Rendra?

Di sini hanya ada satu kamar, kamar lainnya kupakai untuk ruang kerjaku, jadi kita tidur di kamarku. Dia tersenyum. Manis sekali. Dan aku harus menelan ludah karena harus tergoda dengan senyumnya.

Kau! Sudah kubilang kita tidak boleh ada kontak fisik melebihi atasan dan bawahan! Bukankah kau sudah setuju! aku berteriak.

Loh? Kita hanya tidur? Tidak ada yang lain? Atau. Kau mau melakukan hal yang lain. Hm? seringaian seksinya tercetak kembali. Gawat. Lagipula sepertinya tadi sore kau sendiri yang melanggar perkataanmu sendiri. Mati aku. Mati. Dia malah membahas hal yang dari tadi berusaha untuk kulupakan.

Maaf. Tadi itu di luar kendaliku. Tapi aku janji hal ini tak akan terjadi lagi. Aku meyakinkannya. Tepatnya meyakinkan diriku sendiri. Berharap bahwa hal-hal yang lebih parah dari itu tak pernah terjadi.

Oh ya?

Aku menghela nafas. Baiklah. Sayaum.. aku akan tidur di sofa. Dimana kamarnya? Boleh aku meminjam bantal dan selimut?

Dia menggeleng. Sial. Rendra.. panggilku, sedikit kurendahkan suaraku, berharap dia akan luluh. Biasanya lelaki yang kukenal langsung mematuhiku kalau aku sudah bersuara seperti itu dengan mimik wajah memohon. Tapi dia malah menarikku ke kamarnya kemudian menguncinya. MENGUNCI??????

Hei! Buka pintunya! aku mulai emosi. Dia menggeleng lagi. Kemudian menyeringai kembali.

Kau tidur di sini! Mau menurut atau dia menghentikan kalimatnya, menatapku dengan tatapan menggoda, mengangkat sebelah alisnya dan melangkahkan kakinya mendekat padaku. refleks aku mundur.

***

Author: 

Related Posts