Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 14

Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 14by adminon.Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 14The Bastian’s Holiday – Part 14 Chapter II Act II THE GIFT By : Marucil Hari ini aku mendapat sebuah kejutan besar dari Papa. Setelah obrolan tentang photography dengan Papa dan Mba Icha kemarin, Papa berkata akan membelikanku seperangkat alat Photography. Dan hari ini Papa benar – benar mewujudkanya. Ia memberikanku sebuah kamera Nikon tipe […]

tumblr_nw5iogi6cb1uwy710o2_1280 tumblr_nw5iogi6cb1uwy710o8_1280 tumblr_nw5iogi6cb1uwy710o9_1280The Bastian’s Holiday – Part 14

Chapter II
Act II
THE GIFT
By : Marucil

Hari ini aku mendapat sebuah kejutan besar dari Papa. Setelah obrolan tentang photography dengan Papa dan Mba Icha kemarin, Papa berkata akan membelikanku seperangkat alat Photography. Dan hari ini Papa benar – benar mewujudkanya. Ia memberikanku sebuah kamera Nikon tipe 70D dan beragam aksesorisnya. Nampaknya Papa bukan sedekedar memberikanku sebuah hadiah atas IPku semester ini. Melainkan Papa hendak mewariskan hobi lamanya itu kepadaku. Kenapa tidak melihat satu set peralatan Photo ini menandakan bahwa Papa ingin memperkenalkanku lebih dalam pada Dunia Photography.

Aku dan Papa membawa masuk hadiah yang ia berikan kedalam. Dan didalam aku kembali membongkar isi dari semua pemberian itu. Satu buah Lensa Standar 50 mm, Lensa Fix dan sebuah Lensa Wide. Menjadi tambahan dari pemberian Papa ini. Hatiku begitu senang mendapatkan semua pemberian ini. Tak tahu aku harus berkata apa. Yang jelas hari ini menjadi hari yang paling bahagia bagiku.

“Waduh Paah sampe selengkap ini, padahal kan Kamera aja dah cukup, ini pake segala Lensa Lensa dibeliin juga” Kataku tak sanggup menyembunyikan expresi kebahagian.

“Ngapain tanggung – tanggung, belajar Photography tuh tuh gak boleh setengah – setengah. Toh ini juga buat hadiah Semesteran kamu. Gimana suka gak?”
Jelas Papa.

“Weah bukan suka lagi Paah, ini Mah suka Bangeeet. Makasiihh yaah Paah.” Jawabku sambil memeluknya.

“Nah mulai sekarang kamu bebas menggunakan Kamera ini, tapi bukan berarti Papa mengarahkan kamu buat jadi Photographer loh. Ada hal menarik diluar sana yang bisa kamu tangkap dengan mata Lensa ini. Belum lagi kamu bisa mengabadikan fenomena sosial dengan Kamera ini keren kan” nasihat Papa.

“Iya Paah, Tian pasti akan ngerawat dan gunaiin Kamera ini dengan Baik. Sekali lagi makasih yah Paa..” Kataku masih terasa sangat bahagia.

“Iya iya, ya udah Papa kekamar dulu, ini diberesin yaah.” Kata Papa sambil berlalu meninggalkanku.

Aku membawa kado pemberian Papa ini keKamarku. Segera kukeluarkan Lensa wide dan kupasangkan kebody Kamera. Kunyalakan tombol on untuk segera mencoba kemampuan dari kamera ini. Dengan begitu senangnya aku segera mengabadikan apa saja yang menurutku bagus. Kuambil pemandangan sekitar perumahan sebagai Objek potoku. Aku langsung mempraktekan teknik teknik poto yang selama ini diajarkan oleh Mba Icha. Karena Mba Icha menggunakan Kamera Nikon, maka aku tak begitu canggung menggunakan kameraku ini.

Saking senangnya menerima Kamera pertamaku. Tak sadar aku mengambil beragam gambar bahkan gambar yang tak patut untuk diabadikan. Mataku terus membidik melalui View Finder, kuperkecil diafragma untuk mempertajam objek burung yang aku bidik. Terimakasih Papa, kado ini sungguh luar biasa.

Aku tak sabar untuk Hunting foto bersama Mba Icha

“Aduuh senang betul anak Mama ini” Seru mama yang berdiri di pintu Kamarku.

“Ehhh Mamaaa, iya nih maah Tian lagi seneng banget nih heheh” jawabku sambil kumenoleh kearah Mama.

“Yaudah senengnya disimpen dulu, Kita Makan siang yuk sayang, mama udah laper nih kamu belum makan kan?” Tanya Mama sambil melangkah kearahku.

“Iyaa Mah.”
“Belum sih, eh Kok Mama udah pake baju rapi lagi sih? Memang mau kemana?” Tanyaku melihat mamah sudah mengenakan setelan Gamis.

“Mama mau kondangan ke Bogor sama Papa, makanya hari ini mama juga pulang cepet, ” jelas Mama.

“Ohh gituu, Lamaa gak?” Tanyaku sambil berjalan menuju kearah Mama.

“Yah paling sampe malem sih, soalnya Papa Mama mau sekalian main kerumah Budhe Tuti sudah lama mama gak nengok kesana. Kamu gak apa – apa kan ditinggal sampe Malem?” Tanya mama sambil merangkulku dan berjalan keluar.

“Memang Bastian masih kecil kalau ditinggal – tinggal masih nangis, ” Kataku sedikit menggrutu.

“Oph iya Mama lupa kalau Anak Mama ini udah gedeee… Muaach” Kata mama sambil mencium pipiku.

“Ya udah yuk udah ditunggu Papa dibawah.

Aku, Papa dan Mama makan siang bersama. Sembari makan aku kembali meluapkan kegembiraanku atas pemberian yang luar biasa dari Papa. Tawa serta senyum keluar dari mulut Papa dan Mama melihat kegembiraan yang meluap dari dalam diriku. Mereka tampak senang melihat anaknya bahagia.

Terima Kasih Papa, Terima Kasih Mama,

Seudai makan, Papa dan Mama segera bergegas. Mereka bersiap diri untuk menghadiri undangan pernikahan anak Teman Mama di Bogor. Setelah siap mereka segera melaju menggunakan mobil papa yang dikemudikan oleh Mang Ujang. Setelah mereka pergi aku kembali masuk kedalam. Aku menuju ruang makan untuk mengambil Handphoneku yang aku tinggalkan diatas meja. Ketika aku sampai, kulihat Mba Habibah sedang sibuk membereskan piring – piring diatas meja makan.

Ia menyapaku sejenak dan setelah itu ia melanjutkan pekerjaanya. Kuambil Handphonku dan kulihat ada chat masuk dari temanku yang mengajak Futsal besok. Ia memberitahukan lapangan Futsal yang akan digunakan untuk besok. Belum sempat aku membalas Chat dari temanku itu, aku dusah dikagetkan oleh suara lengkingan sendok yang jatuh keatas lantai. Aku cukup kaget karenaya, dan secara refleks aku langsung menoleh kearah suara itu berasal. Rupanya Mba Habibah tidak sengaja menjatuhkannya ketika mengangkat tumpukan piring. Ia menaruh kembali tumpukan piring diatas meja. Lalu ia bergegas memungut kembali beberapa sendok yang tercecer diatas lantai. Melihat hal itu aku kembali terkejut.

Aku sangat terkejut melihat pemandangan dihadapanku itu. Dengan posisi membungkuk seperti itu, membuat baju daster yang Mba Habibah kenakan sedikit menurun hingga buah dadanya kini dapat aku lihat dengan jelas. Buah dadanya begitu besar putih dengan puting yang juga besar dan berwarna coklat gelap. Buah dadanya menggantung begitu saja karena ternyata Mba Habibah tidak mengenakan BH. Mau tidak mau aku terus menatapnya, terlebih ketika Mba Habibah menggoyangkan tubuhnya untuk memungut sendok yang sedikit jauh darinya, Buah dadanya juga ikut bergoyang.

Aku tak sangka Mba Habibah memiliki buah dada yang begitu besar,aku tidak tahu kisaranya aku hanya bisa menebak mungkin lebih dari 36B karena tubuh Mba Habibah juga sedikit besar. Aku memang tidak memperhatikan detail tubuhnya ketika berkenalan dengannya kemarin. Karena aku pikir untuk apa aku memperhatikannya. Tapi ternyata ia memiliki tubuh yang cukup bagus menurutku. Tak sangka ia berasal desa, ya setidaknya begitu menurut pengakuan Mba Habibah sendiri.

Tak lama Mba Habibah berdiri dan segera menaruh Sendok yang ia punguti tadi diatas tumpukan piring. Aku segera memalingkan mukaku. Aku tak mau ia tahu aku tengah memperhatikan dadanya tadi.

“Maaf Mas Jatuuh sendoknya,” sahut dia sedikit merasa bersalah bila kulihat dari raut wajahnya.

“Iyaa Mba gak apa – apa, cuma bikin Kaget aja sih tadi.” Jawabku sambil cengar cengir tak karuan.

“Yah sudah saya mau kedapur dulu Mas, mau Cuci piring.” Sahut dia kembali mengangkat Tumpukan piring menuju dapur.

Aku pun melihat tubuhnya dari belakang ketika ia berpaling meninggalkanku. Dan ternyata bukan hanya buah dadanya saja yang besar. Paha dan Bokongnya juga cukup besar. Kenapa aku baru sadar. Atau mungkin kemarin ia mengenakan celemek hingga aku tak dapat memperhatikannya. Kucoba mengatur nafasku dan mencoba melupakan apa yang aku lihat barusan. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak tidak. Oke,

Cukup Tahan Bastian Tahan, kamu harus sadar siapa dirimu, Huuufttt

Tahaaan Bastiaan

Huftttt…..

Tapi semakin aku mencoba melupakan apa yang kulihat tadi, semakin membuatku penasaran. Tiba tiba aku merasa haus, akhirnya aku memutuskan mengambil minuman dingin didalam kulkas. Segera aku menuju dapur, kubuka Kulkas dan segera mencari minuman didalamnya. Kulihat Mba Habibah tengah mencuci piring. Sembari berjongkok untuk mencari Minuman, aku sefikit mencuri pandang kearah Mba Habibah.

Kulihat Mba Habibah tidak melihatku memperhatikannya. Ternyata kakinya juga cukup mulus dengan bulu – bulu halus tumbuh disekitarnya. Kuperhatikan kakinya dari ujung kaki hingga kepaha sebatas daster yang ia kenakan. Tak kusangka dari ujung jarinya terlihat tak ada cacat sedikitpun. Aku jadi ragu kalau ia berasal dari desa sesuai pengakuanya. Bila kulihat dari kakinya saja, dapat kutebak bahwa Mba Habibah sungguh memperhatikan perawatan tubuh.

Tetapi aku segera sadar bahwa yang aku lakukan tidaklah benar. Bergegas aku mengambil botol minuman dan segera menutup pintu Kulkas. Namun ketika aku hendak menutupnya, kulihat Mba Habibah sedikit menarik dasternya keatas hingga sebagian pahanya dapat terlihat. Entah ia tidak sengaja melakukannya atau ia mengetahui aku sedari tadi memperhatikanya, yang jelas ia benar benar menarik dasternya semakin keatas.

Aku segera menutup pintu Kulkas dan bergegas meninggalkan dapur. Aku tidak ingin terjadi hal yang tidak tidak. Aku berjalan menuju kamarku dan segera kutenggak minuman dingin ini untuk menenangkan diri dan pikiranku atas hal yang barusan aku saksikan. Setelah minumanku habis, aku segera membaringkan tubuhku diatas tempat tidur. kucoba menenagkan nafasku dan benar benar melupakan tubuh Mba Habibah. Namun semakin kulupakan semakin terbayang dalam benakku.

Lalu tanpa kusadari aku telah menutup tubuh bagian bawahku dengan selimut. Lalu tanganku mulai mengelus – elus penisku yang sedikit bergejolak membayangkan kemolekan tubuh Mba Habibah. Namun lama kelamaan mataku menjadi semakin berat dan akhirnya akupun tertidur.

Saat mataku terpejam, aku kembali berada di sebuah lapang. Tempat yang sama ketika aku memimpikan seorang wanita cantik yang beberapa kali datang dalam mimpiku. Namun wanita itu tidak ada. Kucoba mencarinya keberbagai penjuru, tapi tak sedikitpun aku menemukannya.

Tiba tiba aku berlari, mengitari bukit kecil itu. Aku terus berlari, aku ingin melihat sosok wanita itu lagi. Aku berharap kali ini aku dapat melihat sosok wajahnya.

Aku kembali berlari, berlari tiada henti. Sudah lama aku berlari hingga tanah yang ditumbuhi beragam jenis Bunga itu sudah jauh aku tinggalkan.

Dalam pencarianku untuk menemukan wanita itu, aku melihat sebuah rumah berwarna putih bersih. Hatiku begitu tertarik untuk masuk kedalamnya. Akhirnya aku melangkah masuk kedalam pintu besar berwarna putih. Ketika aku masuk kedalam rumah tersebut, kulihat semua perabot dan cat didalam rumah ini juga berwarna putih.

Seluruh mataku memandang hanya warna putih yang menyilaukan yang dapat aku lihat.

Kususuri seisi rumah ini. Tapi tidak ada seorangpun yang ada didalam rumah yang berukuran cukup luas ini. Namun ketika aku masuk kedalam sebuah kamar dilantai dua. Kulihat sebuah sosok wanita berambut pendek. Ia mengenakan sebuah gaun putih yang begitu transparan, hingga lekuk tubuhnya yang langsing dapat kulihat begitu jelas.

Perlahan wanita itu membalikan tubuhnya, rambut pendeknya terkibas oleh angin dari jendela yang terbuka.

Wanita dihadapanku ini adalah wanita yang selama ini menemaniku. Wanita yang selalu mengucapkan kata cinta dari bibir mungilnya. Wanita yang selalu membelai lembut rambutku.

Ia berjalan menghampiriku. Kutatap wajahnya yang sedari tadi menatapku. Sesampainya ia dihadapanku, ia meletakan lengannya diatas pundaku. Lalu ia mendorong tubuhku hingga terhempas diatas kasur.

Ia naik katas kasur bersamaku. Perlahan ia membuka gaun tipisnya hingga kini tubuhnya tak terhalang sehelai benangpun.

Ia mulai merangkak diatas tubuhku, memainkan puting susuku, menggesekan punyanya diatas punyaku.

Sungguh nikmat, kupejamkan mataku untuk menikmati kenikmatan yang Ia berikan.

Ahhhhhhhh

Dari bibir mungilnya kudengar desahan kecil yang begitu bergetar digendang telingaku.

Achhhhhh

Achhhhhhhhh

Desahan desahan kecil itu semakin memekakan telinga. Semakin menggema didalam ruangangan serba putih ini.

ACChhhhhhhhh

Achhhhhhhh…..

Achhhhh

Suara desahan itu semakin keras. Aku segera sadar dan membuka mataku begitu mengetahui desahan itu semakin terasa begitu nyata. Lalu kucari arah desahan itu dan aku kaget begitu mengetahui asal dari desahan itu.

Haaaaahhhh….

Author: 

Related Posts