Cerita Sex Perasaan, Bagian Dua – Part 6

Cerita Sex Perasaan, Bagian Dua – Part 6by adminon.Cerita Sex Perasaan, Bagian Dua – Part 6Enam – Part 6 BAB II Perasaan, Bagian Dua Gini? Bukan neng, gini harusnya. Ah, bener, lebih pas. Nah kan, apa saya bilang, kalo udah pas gini kan enak. Ya tapi mas, soalnya kan susah, jadi gak bisa langsung ke baca. Kilah Revi di hari Rabu itu. Jadwal belajar Fisikanya dengan Gio. Kali ini di […]

tumblr_nvsu7tFgIW1tp7wv0o2_500 tumblr_nvsu7tFgIW1tp7wv0o3_500 tumblr_nvsu7tFgIW1tp7wv0o4_500Enam – Part 6

BAB II
Perasaan, Bagian Dua

Gini?
Bukan neng, gini harusnya.
Ah, bener, lebih pas.
Nah kan, apa saya bilang, kalo udah pas gini kan enak.
Ya tapi mas, soalnya kan susah, jadi gak bisa langsung ke baca. Kilah Revi di hari Rabu itu. Jadwal belajar Fisikanya dengan Gio. Kali ini di rumah Revi.
Vi, kemaren kamu udah bisa baca jenis soal kayak gini. Sekarang kenapa? Ko gak fokus. Problem?
Engga, ga ada apa-apa mas.
Yakin? Ya sudah kalo emang gak ada apa-apa mah. Tapi kamu jadi kurang fokus aja.
Hm, sebenernyaaaa ada sesuatu sih, tapi masih bisa dihandle. Revi tersenyum. Senyum yang Gio tahu pasti dibuat-buat.
Kalo ada apa-apa, kamu jangan ragu-ragu cerita ke saya. Nyantey aja. Ya?
Siap deh mas.

Tapi, itu ko ada kecoa di kerudungnya gak bilang-bilang? Ucap Gio kala ia melihat memang ada kecoa di kerudung Revi.
Hah, aaaaa, mana? Mana?. Revi teriak, meloncat, dan refleks memeluk Gio, Gio sendiri tidak menyangka hasilnya bakalan seperti ini.
Glek. Empuk, ketika Gio merasakan sepasang buah dada Revi yang bulat empuk itu menyentuh dadanya. Gio menyingkirkan kecoa itu, tapi Revi masih juga memeluk dirinya. Dibiarkan beberapa saat walaupun hal ini mau tak mau mebuat penisnya keras, kemudian Gio berkata, Mau ampe kapan nih meluknya? Bayar loh.
Revi kaget, tersipu, dan melepaskan pelukannya pada Gio. Pelajaran kali ini diakhiri dengan perasaan canggung di kedua pihak.

Tak lama setelah Gio pulang, Revi terbaring di kasurnya, tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi, namun kembali dia teringat Bima, pertemuannya dengan Bima dan Yuni Jumat kemarin masih berbekas di benak Revi. Apa benar Bima ama Yuni? Tapi Yuni kan udah ada Satrio, ato mereka emang backstreet? Ada perasaan iri dan cemburu di hati Revi. Perasaan yang segera ia simpan. Kemudian ia ingat Rian. Membuka HP nya, masuk ke Gallery, dan melihat foto Rian. Revi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Udahlah. Pikirnya, dan kemudian Revi berdiri, membuka kerudungnya, dan masuk ke kamar mandi.

Teringat lagi kejadian tadi dengan Gio, dan Revi berusaha mengingat-ngingat kembali, kapan terakhir kali dia dipeluk oleh laki-laki. Sudah lama. Revi lalu menanggalkan seluruh pakaiannya, bersiap untuk mandi. Dan ketika menyabuni dirinya, pas dia memegang buah dadanya, kembali dia berpikir, mengingat terakhir kali dadanya itu diemut, dan putingnya dipilin. Tanpa Revi sadari, dia mulai menyenyuh dirinya, meremas sendiri buah dadanya.
Aaaahhhh, ssssss Revi mulai merintih, dan merasa geli. Tangan kanannya turun ke arah selangkangannya, menyentuh vaginanya, bermain disekitar belahan vaginanya.

Hhhheeeeuuu, ah, sssss, ahhhh …… Jarinya menemukan klitorisnya, dan Revi bermain disitu, di tempat yang belum pernah disentuh oleh laki-laki. Mantannya pun dulu, walaupun pernah memainkan vaginanya, namun belum menemukan bagian ini.
Lima menit sudah revi menyentuh dirinya sendiri, sampai. Aaaaaaahhhhhsssssss …… hah hah hah. Orgasme dahsyat melanda Revi, setelah hampir 2 tahun dia tidak merasakannya.

================================
Gio memacu motornya dengan cepat, tujuannya sudah pasti, rumah Ima. Kejadian tadi dengan Revi benar-benar membuatnya naik. Di simpannya kuda besi di halaman rumah Ima, dan langsung dia menuju pintu, baru saja hendak digoyangkannya bel gantung di pinggir pintu, ibu Ima keluar. Eh, Gio, mau ke Ima? Imaaaa, ada mas Gio nih.

Loh, Ibu mau ke mana? Tanya Gio.
Ke rumah neneknya Ima, sakit katanya, bapaknya Ima udah di sana, jadi Ibu mau nyusul. Udah makan belum? Kalo belum di meja masih ada makanan.
Udah ko Bu, tapi nanti kalo tiba-tiba rasa lapar datang menerjang, pasti ikut makan, haha.
Ya sudah, Ibu pergi dulu.
Ya, hati-hati Bu. Gio memperhatikan sampai ibunya Ima menghilang dari pandangan sambil berpikir, Mana nih si Ima, lama banget keluarnya. Namun tak lama kemudian Ima keluar, segar, rupanya dia baru beres mandi, menggunakan kaos putih pendek, yang ditutup oleh jaket hitam, celana piyama dan kerudung langsung pakai berwarna putih.

Hai Mas, dari Revi?
Iya, kangen Ima, jadi langsung ke sini.
Huuuu, gombal. Masuk mas
Pada kemana Ma?
Si kakak pulang malem, mamah dan papah di nenek, Ima tadinya udah ma….. mmmppphhhhf.

Belum selesai menyelesaikan perkataannya, Gio langsung menyambar bibir Ima. Mas? Mhmm …. ah, slurp.
Tangan Gio langsung meremas buah dada Ima, padat, kenyal, Aaaahhh … mas.
Bernafsu, Gio membalikan tubuh Ima, memeluknya dari belakang, tangan kirinya menyentuh pipi kiri Ima, mendorongnga agar Ima melihat ke arah kanan, kemudian kembali melumat bibir Ima, lembut, namun tetap bernafsu.

Lidah mereka saling melilit satu sama lain, kedua tangan Gio kini sudah berada di atas kedua buah dada Ima, meremasnya, memainkannya. Ah, massss, masih di ruang tamu ini, aaahhhhhh, enak tapi, terusin dulu, aahhhhhh …..
Gio tidak menyia-nyiakan kesempatan, dilepaskannya jaket hitam Ima, dan dinaikannya kaos Ima ke atas, dia langsung menyentuh buah dada Ima dari atas BH nya. Tidak puas dengan itu, Gio melepaskan kaitan BH Ima, dan langsung memainkan puting Ima yang sudah berdiri, memilinnya, dan kembali meremas dada Ima.
Ima sendiri tampaknya terbawa oleh nafsu, dari mulutnya keluar rintihan yang menggairahkan, hal ini menambah nafsu Gio. Mereka terus berciuman, dan Gio pun mulai beralih dari mulut Ima ke arah telinga Ima yang masih tertutup kerudungnya. Mas, aaaahhh, geli mas.
Gio menyingkapkan bagian kanan kerudung Ima, dan dia langsung mencium leher Ima yang putih mulus, menjilatinya, membasahinya. Penis Gio dia tekan dengan keras ke pantat Ima Ah, Ima, susu kamu bener-bener bagus Ma. Putingnya juga.

Tangan kanan Gio kemudian turun ke selangkangan Ima. Ima sendiri langsung berteriak kecil. Piyama yang digunakannya terbuat dari kain yang tipis. Otomatis, kini jari Gio lebih terasa menyentuh belahan vaginanya. Gio sadar akan hal ini, apalagi dari nafas Ima yang semakin memburu dan rintihannya.
Sementara tangan kirinya tak henti meremas dada kiri Ima, tangan kanannya terus saja menggesek vagina Ima dari luar piyamanya, dan penisnya terus Gio tekan ke pantat Ima. Bibirnya sendiri sedari tadi sudah kembali menemukan bibir Ima. Dan tangan Gio sudah merasakan selangkangan Ima semakin lembab. Gio paham betul hal ini, karenanya terus dia mainkan jari-jarinya sampai akhirnya Ima mendapatkan orgasmenya.

Mas, Imaaaa, aahhhh, keluar mas. Lemas, Ima langsung duduk di lantai ruang tamunya. Gio mengangkat Ima dan mendudukannya di sofa. Saya belum keluar Ma.
Ya, mas mau peting?
Rupanya Gio ingin lebih, ini dibuktikannya dengan langsung membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya, tidak mempedulikan protes Ima.
Tolong kocokin sayang, ya? Mau ya?
Kali ini Ima merasa sangat tidak enak, kemudian dia mengangkat tangan kanannya, menyentuh penis Gio, untuk pertama kali Ima menyentuh kemaluan laki-laki, Ya, kocok Ma.

Gini? Ima bertanya sambil mengoco penis Gio dengan tangannya yang halus. Iaaa, gitu sayangngng, ah, terus Ma. Gio mendesah dan mengerang. Cairan pelumasnya pun sudah banyak yang keluar dari ujun penisnya. Ma, mau keluar Ma, kocok yang lebih cepet lagi Ma. Ah ah ah, Ma, keluar, Imaaaaaa …
Dan, crooott, spermanya keluar, muncrat, sebagian mengenai kerudung Ima, sebagian ke sofa, dan sebagian ke kaos Ima.

Ahh! Ima berteriak kaget. Ih, Mas, jorok banget deh. Apalagi ketika Ima sadar di tangannya pun terdapat sperma Gio. Gio sendiri hanya tersenyum puas. Ima kemudian membersihkan semua sperma Gio dengan tisu. Gio kembali memeluk Ima dan berucap, Terima kasih cinta.

Tapi rupanya itu tadi itu belum cukup buat Gio, dia kembali menciumi Ima, dan kali ini yang menjadi sasarannya sudah pasti adalah puting Ima. Ima yang masih kaget kembali tersentak, namun kali ini oleh rasa nikmat yang dirasa, apalagi ketika Gio membuka mulutnya lebar-lebar dan menyedot buah dada kananya, hampir seluruh buah dadanya masuk ke mulut Gio, Aaahh, mas, enak mas, ah, ya, itu, mainin puting Ima mas. Rengek Ima.
Gio menidurkan Ima di atas sofa, menindihnya, kembali melumat buah dada Ima. Cupangin mas. Kembali Ima merengek. Kiri ato kanan?
Dua-duanyaaaaa, ah, enak.

Gio terus membuat tanda, tapi dia tidak berhenti di dada, naik ke atas, Gio memberikan cupangan di leher, membuka sedikit kerudungnya ke atas, dan dia mencium telinga Ima langsung, tanpa tertutup oleh kerudung.
Mas, geliiiii, aaaakhhhh ….
Tahan sayang, ntar juga enak.
Geli mas, gak kuat. Ssssss … Aaakhhh.

Sedikit demi sedikit Gio mengangkat kerudung Ima, sampai akhirnya kerudung langsung pakai itu terlepas dari kepala Ima, dan terlihatlah rambut Ima yang hitam dan panjang, lehernya yang benar-benar jenjang dan putih. Gio langsung menyambar mulut Ima, dengan kedua tangannya bergerak dikepala Ima di antara rambut Ima yang indah.

Penis Gio yang belum dimasukkan ke dalam celananya menekan-nekan vagina Ima dari luar piyama, dan ini otomatis lebih dirasakan pula oleh Ima. Penis Gio langsung dan piyamanya yang tipis. Mereka terus saling tekan, saling raba, dan saling cium. Sampai mereka merasakan orgasme hampir berbarengan. Dimulai dari Gio, yang keluar dan disertai dengan dorongan pinggulnya yang kuat ke selangkanyan Ima, dan diikuti oleh Ima. Ah, mas, Ima keluar mas.
Ngos-ngosan, Gio masih berada di atas tubuh Ima. Memeluk Ima, dan mencium keningnya.

Gio merasa puas, kali ini permainannya dengan Ima sudah lebih jauh, tapi dia merasakan hal lain. Ya, peristiwa dengan Revi tadi. Dan yang jadi masalahnya, dia sempat bekhayal bahwa yang tadi dia remasi dan mainkan adalah buah dada Revi.

——Bersambung——

Author: 

Related Posts